MEMBANGUN SEKOLAH EFEKTIF

UPAYA KEPALA SEKOLAH MEMBANGUN SEKOLAH EFEKTIF

Bambang Sudrajat, SPd. M.MPd.

Arus globalisasi  yang melanda Indonesia berdampak pada berbagai aspek kehidupan manusia termasuk di bidang pendidikan, dunia pendidikan dituntut untuk menjawab berbagai tantangan jaman. Sehingga munculah suatu pemikiran kearah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas (otonomi sekolah). Dalam era desentralisasi seperti saat ini, di mana sektor pendidikan juga dikelola secara otonom oleh pemerintah daerah, dan praktis pendidikan harus ditingkatkan ke arah yang lebih baik dalam arti adanya relevansinya bagi kepentingan daerah maupun kepentingan nasional. Pentingnya pemahaman terhadap keefektifan sekolah tidak saja dalam kaitannya dengan peningkatan mutu, tetapi juga sejalan dengan kebijakan nasional. Konsep dan prinsip-prinsip dasar dari kebijakan tersebut mulai diterapkan dengan diberlakukannya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dituangkan dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Efektifitas penyelenggaraan program tercermin dan dapat diukur dengan kemampuan kepala sekolah dan guru menyelenggarakan semua fungsi-sungsinya secara professional.

Berbagai permasalahan penyelenggaraan pendidikan di sekolah, diantaranya :

1.    Peningkatan prestasi

Umumnya sekolah hanya berkonsentrasi diluar kegiatan pembelajaran belum terfokus bagaimana upaya peningkatan prestasi belajar.

2.    Pembelajaran secara efektif dan efisien

Umumnya pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru kurang efektif dan efisien

3.    Pengembangan inovasi pembelajaran

Umumnya guru-guru dalam melaksanakan pembelajaran hanya sekadar rutinitas, belum ada upaya pengembangan inovasi pembelajaran sebagai dampak kurangnya melaksanakan KTI

4.    Pemanfaatan media dan sumber belajar

Kurang adanya dukungan fasilitas media pembelajaran yang memadai

5.    Peningkatan profesionalisme guru

Kurangnya jaringan komunikasi, komitmen financial terhadap peningkatan profesionalisme guru.

Berbagai permasalahan yang berkembang, menuntut upaya untuk mewujudkan sekolah efektif dengan melakukan reformasi sekolah yaitu suatu upaya mengubah falsafah dan budaya para guru dan pengelola sekolah, dengan memperbaiki kondisi belajar dan lingkungan sekolah agar setiap siswa dapat mencapai tujuan belajar dalam rangka terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Falsafah guru dan pengelola sekolah yang semula berorientasi kepada siswa sebagai obyek belajar diubah menjadi siswa sebagai subyek belajar; budaya guru dan pengelola sekolah yang semula berorientasi pada prinsip kompetitif diubah menjadi saling kolaboratif; kondisi dan lingkungan sekolah yang kurang mendukung proses pembelajaran siswa diubah menjadi kondisi dan lingkungan yang kondusif bagi proses pembelajaran siswa. Untuk itu penting sekali melakukan pengkajian terhadap upaya kepala sekolah dalam membangun sekolah efektif yang diyakini mampu memberikan solusi untuk berbagai permasalahan dalam penyelenggaraan proses pembelajaran secara efektif dan efisien (pembelajaran bermakna/meaningfull learning) sehingga terwujud sekolah efektif.

Tujuan/manfaat pengkajian ini, diharapkan kepala sekolah mampu memberikan sentuhan pendidikan yang menawarkan transfer of learning, transfer of training, dan transfer of principle dengan menemukan dan melakukan berbagai upaya serta mencari alternative solusi dalam membangun sekolah efektif. Indicator keberhasilannya adalah kepala sekolah dapat mengubah paradigma mengajar menjadi pembelajaran bermakna (meaningfull learning), membuat semua siswa belajar dengan membangun reformasi sekolah melalui komunitas pembelajaran (learning community).

Sekolah efektif berdasarkan konsep dari para akhli seperti Mortimore (1991);  sekolah efektif : semua siswa dijamin dapat berkembang sejuh mungkin, sehingga pada sekolah efektif terdapat proses belajar yang efektif dengan ciri-ciri seperti yang disampaikan Sackey (1986) adanya visi/misi yang dipahami bersama oleh komunitas sekolah (adanya system nilai dan keyakinan, adanya tujuan, adanya kepemimpinan instruksional); iklim belajar yang kondusif (adanya keterlibatan dan tanggung jawab siswa, lingkungan fisik mendukung, prilaku siswa positif, adanya dukungan keluarga dan masyarakat); adanya penekanan terhadap proses pembelajaran (memusatkan pada kurikulum dan instruksional, adanya pengembangan dan kolegialitas guru, adanya harapan yang tinggi dari komunitas sekolah, adanya pemantauan yang kontinu terhadap kemajuan belajar siswa). Edmond (1979) dengan konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (school base management) penekanan pada kemandirian dan kreatifitas sekolah, sekolah efektif selalu focus pada perbaikan proses pendidikan yang memiliki karakter lingkungan sekolah aman dan tertib, memiliki visi/misi dan target mutu, kepemimpinan yang kuat, adanya harapan yang tinggi dari personil sekolah untuk berprestasi, adanya pengembangan staf yang terus menerus, evaluasi yang terus menerus, adanya komunikasi dan dukungan yang kuat dari orang tua/masyarakat.

Reformasi sekolah adalah suatu upaya mengubah falsafah dan budaya guru dan pengelola sekolah dengan memperbaiki kondisi belajar dan lingkungan belajar dalam rangka terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Dalam hal ini dikembangkan siswa sebagai obyek pembelajaran, prisif saling kolaboratif, kondisi lingkungan kondusif bagi proses pembelajaran siswa membentuk komunitas belajar (learning community), pembelajaran menggunakan pendekatan reflektif lebih berfokus dalam kegiatan siswa dalam belajar, guru menganalisis pembelajaran, apakah siswa belajar? Bagaimana prosesnya? Adakah siswa yang tidak belajar? Mengapa? Temuan digunakan untuk perbaikanpembelajaran berikutnya.

Agar proses reformasi di sekolah dapat berjalan dengan baik dalam membangun sekolah efektif, peran kepemimpinan kepala sekolah sangat vital, karena kepala sekolah yang bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memungkinkan guru mendayagunakan dan mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. Kepala sekolah harus bertindak sebagai pemimpin (leader) yang efektif, menekankan kepada pencapaian prestasi akademik/non akademik, menunjukan kemampuannya dalam mengelola sekolah, guru, siswa untuk mencapai tujuan, dan berorientasi pada tugas dan hubungan manusia (integrated leadership). Sebagai manajer yang baik, kepala sekolah harus mampu mengatur agar semua potensi sekolah dapat berfungsi secara optimal dalam mendukung tercapainya tujuan sekolah. Hal ini dapat dilakukan jika kepala sekolah mampu melakukan fungsi-fungsi manajemen dengan baik meliputi: (1) perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) pengarahan; dan (4) pengawasan. Kepala sekolah harus memiliki karakter tegas, bekerja sama, berpengaruh, keyakinan diri, energik, bertanggung jawab, dan memiliki skill, pandai, kreatif, lancar berbicara, kemampuan konseptual dan ketrampilan social (Feldmond dan Arnold, 1983). Sehingga perlu pemberdayaan kepemimpinan kepala sekolah dalam arti peningkatan kemampuan  secara fungsional, mampu berperan sesuai dengan tugas, wewenang, dan tanggung jawabnya yang pada akhirnya memiliki kinerja yang profesional dan fungsional dalam membangun sekolah efektif. Adapun kualitas dan prilaku kepala sekolah efektif diantaranya : memiliki visi yang kuat dan mendorong semua staf mewujudkan visi, memiliki harapan yang tinggi terhadap prestasi siswa dan kinerja staf, tekun mengamati guru di kelas dengan memberikan balikan yang positif dan konstruktif dalam rangka memecahkan masalah dan perbaikan pembelajaran, mendorong pemanfaatan waktu secara efisien dan merancang langkah-langkah meminimalisasi kekacauan, mampu memanfaatkan sumber-sumber material dan personil secara kreatif, memantau prestasi siswa secara individual dan kolektif serta memanfaatkan informasi untuk  mengerahkan perencanaan instruksional. Dalam menjalankan perannya kepala sekolah melakukan langkah-langkah sebagai berikut : tahun pertama menerima tanggung jawab, menetapkan tujuan dan norma-norma, berkonsentrasi kepada upaya-upaya pembelajaran dan kunjungan kelas, mengembangkan aktifitas dan struktur sesuai tujuan, komunikasi terbuka, pertemuan dengan guru, penetapan orientasi akademik, system pemberian reward; tahun kedua menindaklanjuti ide-ide di tahun pertama; dan tahun ketiga menyempurnakan implementasi perubahan iklim, prosedur, dan melanjutkan reformasi sekolah.

Upaya membangun sekolah efektif di era globalisasi dilakukan oleh kepala sekolah dengan mewujudkan proses pembelajaran efektif, menerapkan system evaluasi efektif dan perbaikan kontinu, refleksi diri kearah pembentukan karakter kepemimpinan yang kuat, pengembangan staf yang kompeten, menumbuhkan sikap responsive dan antipasif terhadap kebutuhan, menciptakan lingkungan aman dan tertib, menumbuhkan budaya mutu, menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi,menumbuhkan kemauan untuk berubah, melaksanakan keterbukaan manajemen sekolah, mewujudkan visi/misi, pengelolaan tenaga kependidikan, sumber belajar, dan kegiatan kesiswaan/ekstrakurikuler secara efektif. Kepala sekolah sebagai agen perubahan proses pembelajaran, untuk membangun sekolah efektif perlu melaksanakan kebijakan dalam meningkatkan mutu pembelajaran dengan pemberdayaan dan pembinaan SDM, sarana prasarana, dan lingkungan. Membina dan mengembangkan guru yang professional dengan menetapkan kebijakan membangun komunitas belajar (learning community) melalui program lesson study yang berbasis sekolah, yaitu model pembinaan guru melalui pengkajian pembelajaran secara berkelanjutan, berkolaborasi mengkaji pembelajaran agar terpusat pada siswa melalui hands-on dan minds-on activity, daily life, dan local material, berlandaskan prisip-prinsip kolegialitas dan mutual learning untuk membangun learning community.

Lesson study adalah suatu strategi untuk meningkatkan mutu pembelajaran melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prisip-prinsip kolegalitas dan mutual learning. (Dr. rer.nat. Asep Supriatna, M.Si, dkk; Panduan Implementasi Lesson Study; 2010).

Pelaksanaannya dalam tiga tahapan Plan (merencanakan pembelajaran), Do (implementasi/uji coba inovasi pemebelajaran pada kelas nyata, melakukan pengamatan/observasi pembelajaran), dan See (refkelsi/membahas temuan-temuan hasil pengamatan). Objek kajiannya adalah materi ajar, metoda, pendekatan pembelajaran, setting kelas, assessment.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: