MEMBANGUN KOMUNITAS BELAJAR (LEARNING COMMUNITY) DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH EFEKTIF

Suatu pekerjaan dikatakan profesional jika pekerjaan itu memiliki kriteria tertentu. Jika kita mengikuti pendapat Houle, ciri-ciri suatu pekerjaan yang profesional meliputi: (1) harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat; (2) harus berdasarkan atas kompetensi individual; (3) memiliki sistem seleksi dan sertifikasi; (4) ada kerjasama dan kompetisi yang sehat antar sejawat; (5) adanya kesadaran profesional yang tinggi; (6) memiliki prinsip-prinsip etik  (kode etik); (7) memiliki sistem sanksi profesi; (8) adanya militansi individual; dan  (9) memiliki organisasi profesi.

Upaya kepala sekolah dalam membangun sekolah efektif adalah membina dan mengembangkan guru yang professional, menetapkan kebijakan membangun komunitas belajar dengan melaksanakan program lesson study berbasis sekolah (LSBS). Guru yang profesional perlu melakukan pembelajaran di kelas secara efektif. Kemudian, bagaimana ciri-ciri guru yang efektif ? Menurut Gary A. Davis dan Margaret A. Thomas, paling tidak ada empat kelompok besar ciri-ciri guru yang efektif. Keempat kelompok itu terdiri dari:

Pertama, memiliki kemampuan yang terkait dengan iklim belajar di kelas, yang kemudian dapat dirinci lagi menjadi (1) memiliki keterampilan interperso-nal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan kepada siswa, dan ketulusan; (2) memiliki hubungan baik dengan siswa; (3) mampu menerima, mengakui,  dan memperhatikan siswa secara tulus; (4) menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar; (5) mampu menciptakan atmosfir untuk tumbuhnya kerja sama dan kohesivitas dalam dan antar kelompok siswa; (6) mampu melibatkan siswa dalam meng-organisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran; (7) mampu mendengarkan siswa dan menghargai hak siswa untuk berbicara dalam setiap diskusi; (8) mampu meminimal-kan friksi-friksi di kelas jika ada.

Kedua, kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, yang  meliputi: (1) memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menangani siswa yang tidak memiliki perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu memberikan transisi substansi bahan ajar dalam proses pembelajaran; (2) mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda untuk semua siswa.

Ketiga, memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feedback) dan penguatan (reinforcement), yang terdiri dari: (1) mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa; (2) mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap siswa yang lamban belajar; (3) mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang kurang memuaskan; (4) Mampu memberikan bantuan profesional kepada siswa jika diperlukan.

Keempat, memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri, terdiri dari: (1) mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif; (2) mampu mem-perluas dan menambah pengetahuan mengenai metode-metode pengajaran; (3) mampu memanfaatkan perencanaan guru secara kelompok untuk menciptakan dan mengembang-kan metode pengajaran yang relevan.

Program pembinaan guru melalui Implementasi Lesson Study merupakan program penguatan kemitraan kelembagaan antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan Pemerintah Kota Bandung dalam rangka Pembinaan Guru dalam Jabatan.  Melalui program kemitraan ini diharapkan dapat menghasilkan model pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi lesson study.. Dalam upaya mengembangkan sekolah efektif kepala sekolah mengembangkan program lesson study berbasis sekolah melalui pendampingan oleh dosen UPI sebagai narasumber. Para guru dan dosen berkolaborasi mengkaji pembelajaran (research lesson) agar pembelajaran lebih terpusat pada siswa melalui hands-on and mind-on activity, daily life, dan local material.


Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan, Do dan See dengan agenda kegiatan sebagai berikut:

Tahapan pertama Plan adalah perencanaan yang secara kolaborasi mencari solusi inovatif atas permasalahan dalam pembelajaran untuk mengaktifkan siswa;

Tahapan kedua Do adalah implementasi (ujicoba inovasi pembelajaran pada kelas nyata, seorang guru mengajar dan guru lain mengobservasi/menacatat aktivitas siswa;

Tahapan ketiga See yaitu refleksi (membahas temuan tentang aktivitas dan merancang tindak lanjut) yang berkelanjutan. Objek kajian pada kegiatan Lesson Study ini antara lain materi ajar, metode/strategi, pendekatan pembelajaran, seting kelas, asesmen.

Tahapan  Plan, Do, dan See tersebut sebenarnya dapat dikatagorikan dua jenis kegiatan diantaranya : kegiatan perencanaan lesson study yaitu tahapan Plan, dan kegiatan implementasi lesson study (open lesson) yaitu tahapan Do dan See.

1. Kegiatan Perencanaan (Plan)

Pada pertemuan pertama, kegiatan difokuskan pada pemahaman materi lesson study, mendapatkan materi dari narasumber dari dosen UPI tentang latar belakang pengertian, maksud dan tujuan, tahapan pelaksanaan, perkembangan lesson study, tata cara pelaksanaan Plan, Do, See, keberhasilan program lesson study yang dilaksanakan di tempat asalnya Negara jepang, pada kegiatan ini juga peserta mendapatkan materi tentang bagaimana guru sebaiknya melaksankan pembelajaran kepada siswa sesuai dengan yang diharapkan sebagai guru yang professional. Penjelasan dan pengarahan dari dosen pendamping LS sebagai narasumber ternyata dapat membukakan fikiran peserta tentang cara-cara mengelola pembelajaran, serta dapat menambah pengetahuan tentang teknik pembelajaran. Setelah mendapatkan pemahaman tentang lesson study dari narasumber/dosen pendamping LS, selanjutnya membentuk kelompok berdiskusi berbagi pengalaman dan menentukan dari setiap kelompok tersebut siapa yang dipercaya untuk menjadi guru model.

Pada pertemuan kedua, Penjelasan dan pemahaman materi dari dosen pendamping LS tentang bagaimana pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang benar sehingga menjadikan pembelajaran efektif dan menyenangkan, termasuk didalamnya strategi/model pembelajaran, LKS, media, langkah-langkah pembelajaran (scenario pembelajaran), dan alat evaluasi.

Gambar 2 : Suasana kegiatan Plan, Peserta Lesson Study berkolaborasi sharing pengalaman tentang pembuatan rencana pembelajaran.

Kegiatan berikutnya adalah secara berkelompok sebagimana yang sudah terbentuk pada pertemuan sebelumnya dengan bimbingan dosen pendamping LS dan dipandu fasilitator diperintahkan untuk berdiskusi sharing pengalaman dan pengetahuan untuk mengembangkan RPP, membuat rancangan pembelajaran, media pembelajaran, LKS, assessment, peta tempat duduk siswa sesuai dengan materi dan kelas yang akan digunakan oleh guru model  masing-masing kelompok pada saat pelaksanaan open lesson nanti. Hasil diskusi kelompok ini dibuat laporan dan dipresentasikan untuk ditanggapi oleh seluruh peserta, kemudian setelah itu berdasarkan masukan-masukan dari peserta dibuat perbaikan-perbaikan. Hasil pengamatan menunjukan bahwa dalam kegiatan ini menuntut berparisipasi aktif dan bekerja sama dalam kegiatan kelompok untuk mengembangkan teaching material.

Gambar 3 : Suasana presentasi hasil diskusi kelompok. Salah satu kelompok sedang memaparkan hasil diskusi kelompok untuk ditanggapi oldeh peserta lainnya.

2. Kegiatan Implementasi Lesson Studi (Open Lesson)

Pada Lesson Study kegiatan Do dan See pelaksanaannya dilakukan secara bersamaan setiap pertemuan saat melaksanakan kegiatan implementasi lesson study atau open lesson. Setiap pertemuan implementasi lesson study atau open lesson, kegiatan diawali dengan breefing open lesson disini pemandu membacakan tata tertib pelaksanaan Do yaitu kegiatan observasi/pengamatan yang pada saat itu tidak menjadi guru model, pada kegiatan Do selama peserta didik melakukan pembelajaran diharapkan peserta LS melakukan observasi keadaan berdiri mengambil posisi untuk mengamati siswa belajar, tidak berbicara dengan observer lainnya, tidak menggangu siswa  belajar, tidak keluar masuk ruangan, tidak mempengaruhi atau berbicara dengan siswa atau guru model, tidak menghalangi pemandangan siswa ke depan.  Observasi terfokus kepada pertanyaan-pertanyaan : apakah siswa belajar, bagaimana prosesnya, adakah siswa yang tidak belajar, mengapa, bagaimana usaha siswa menghadapi kesulitan belajar, apa lesson learnt dari pembelajaran tersebut. Setelah membacakan tata tertib observasi pembelajaran, pemandu mempersilahkan guru model untuk myenyampaikan rencana pembelajaran mencakup antara lain topic, tujuan, rencana scenario pembelajaran, dan setting tempat duduk. Setelah proses pembelajaran selesai dilaksanakan, masuk kembali kedalam suatu ruangan untuk melaksanakan kegiatan See yaitu kegiatan refleksi tentang pembelajaran yang baru saja dilaksanakan. Kegiatan ini diawali oleh moderator dengan membacakan tata tertib menyampaikan hasil temuannya ketika mengamati pembelajaran siswa, refleksi terfokus pada proses belajar siswa bukan pada aktivitas guru mengajar, masalah yang didiskusikan hendaknya masalah yang nyata berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran.  Kemudian moderator mempersilahkan guru model melakukan refleksi diri terlebih dahulu berupa perasaan sebelum, saat, dan setelah mengajar, ketercapaian rencana scenario pembelajaran, kondisi-kondisi khusus yang terjadi pada beberapa siswa saat pembelajaran. Kegiatan dilanjutkan dengan mempersilahkan pengamat menyampaikan komentar berdasarkan fakta hasil temuan, analisis penyebab, dan alternative solusi. Komentar yang disampaikan salah seorang pengamat oleh moderator dijadikan suatu permasalahan sebagai bahan kajian untuk mempersilahkan pengamat lain menanggapi komentar tersebut. Suatu masalah didiskusikan bersama sampai tuntas sehingga diskusi berlangsung menarik dan mendalam. Moderator mempersilahkan semua pengamat memberikan komentar, berdasarkan kelompok belajar siswa yang diamati. Akhirnya moderator mempersilahkan dosen pendamping LS melakukan refleksi akhir dan penguatan.

Pada kegiatan ini memperoleh pengalaman dari pembelajaran yang dilakukan guru model baik kelebihan maupun kekurangannya, mendapatkan lesson learn dari permasalahan dan kendala selama siswa belajar berdasarkan hasil pengamatan mereka, antara lain:

a. Mencari tahu masalah yang dihadapi siswa;

b. Lebih aktif memotivasi dalam menyelesaikan masalah;

c. Relevansi antara RPP dan LKS;

d. Bertambah ilmu dan mengetahui kekurangan selama proses pembelajaran;

e. Mengkondisikan tempat duduk pada kelompok;

f. Mengetahui bagaimana pembelajaran lancar sesuai waktu, kesulitan siswa dalam belajar, kesulitan memecahkan masalah, pembelajaran menarik dengan persiapan matang, motivasi siswa yang baik, teknik bertanya;

g. Bagaimana membuat RPP yang tepat, media belajar, mengatur waktu sesuai RPP, posisi duduk siswa, penempatan siswa dalam kelompok, penguasaan materi;

h. Mengikuti hal-hal yang dapat diterapkan disekolahnya dengan menambah berbagai kekurangannya;

i. Kebijakan dan kecepatan dalam menerangkan (daya serap siswa).

j. Belajar dengan alat peraga lebih baik dan lebih memudahkan siswa memahami konsep.

k. Ketika menghadapi kesulitan, siswa berusaha meminta bantuan teman sebaya dan guru.

l. Peserta LS dapat menemukan cara pembelajaran dengan menggunakan media.

m. Penguasaan materi dan penggunaan model pembelajaran yang tepat sangat dibutuhkan untuk efektifitas pembelajaran.

n. Dalam proses pembelajaran perlu pengaturan waktu dan penguasaan kelas yang baik.

o. Saat proses pembelajaran diperlukan bimbingan guru.

p. Menambah pengalaman dan dapat memotivasi peserta LS.

Gambar 4: Suasana open lesson1. Peserta Lesson Study sedang melakukan observasi proses pembelajaran siswa.

 

Setelah selesai melaksanakan pengamatan dilanjutkan melaksanakan kegiatan Refleksi yang dipimpin oleh moderator. Kegiatan diawali dengan penyampaian kesan dan pesan dari guru model serta ketercapaian RPP selama proses pembelajaran, membacakan tata tertib refleksi, diteruskan dengan penyampaian komentar dari peserta LS selama melaksanakan pengamatan di kelas. Berbagai komentar yang dimungkinkan diperoleh selama pengamatan antara lain:

a.      Awal pembelajaran siswa belum focus, diskusi kelompok kurang efektif hanya didominasi oleh seorang siswa, terdapat siswa yang tidak mengerjakan sama sekali, terdapat soal yang tidak bisa dipecahkan oleh siswa.

b.      Diskusi didominasi oleh seorang siswa, umumnya materi tidak dikuasai siswa.

c.      Awal KBM kurang antusias, sebagian siswa pasif, focus anak kurang dengan kondisi tempat duduk.

d.      Siswa kesulitan membuat kesimpulan, dan menarik kesimpulan masih dilakukan oleh guru.

Berbagai permasalahan yang ditemukan selama proses pembelajaran seperti : apersepsi kurang, pemahaman konsep kurang jelas, penguasaan dan pengelolaan kelas kurang, LKS tidak berfungsi secara maksimal, pengkondisian kelompok kurang, presentasi kelompok kurang tertib, penghargaan bagi siswa kurang, tidak menyimpulkan materi. Adapun solusi yang bias disampaikan antara lain: memonitor masalah, memberikan stimulus, penuntun LKS harus jelas, siswa yang berkemampuan lebih dikondisikan duduk ditengah pada kelompok tersebut, pada presentasi ditunjuk diberi nilai yang tidak presentasi nilai hasil diskusi, merancang model pembelajaran sesuai kondisi siswa, kelompok diberi arahan dan bimbingan secara merata, memberikan reward, penegasan untuk soal yang dianggap sulit. Kegiatan refleksi ini diakhiri dengan komentar dan penguatan oleh dosen pendamping dari UPI antara lain :

a.      Pengamalan yang sangat berharga bias kita dapatkan dari kegiatan LS.

b.      Perlu sharing untuk kegiatan LS dari UPI, Sekolah, Dinas.

c.      Resep yang dipakai dalam pembelajaran matematika : pembelajaran harus konstektual, konstruktivisme (mengalami), dan kooperatif (kelompok).

d.      Penyakit dalam pembelajaran matematika antara lain: prasarat, algoritma (proses menghitung), problem (masalah) yang timbul karena kalimat baik lisan atau tulisan belum jelas.

e.      Belajar tuntas terdiri dari individu dan klasikal, klasikal harus mencapai lebih dari sama dengan 75% dari seluruh siswa memenuhi KKM dan muncul remedial serta pengayaan.

Hasil yang diperoleh dalam membangun komunitas pembelajaran melalui Program pengembangan Lesson Study, menunjukkan bahwa kegiatan LS:

a.      Dapat membukakan pikiran tentang cara mengelola pembelajaran;

b.      Dapat menambah pengetahuan tentang teknik pembelajaran;

c.      Sangat diperlukan dan penting bagi setiap guru yang diberi tugas mengajar;

d.      Bermanfaat bagi guru dalam meningkatkan kualitas kerjanya;

e.      Guru berpartisipasi aktif dan bekerja sama dalam kegiatan kelompok untuk mengembangkan teaching material (alat pembelajaran, LKS, dan media);

f.       Senang dan ingin menjadi guru model;

g.      Tidak merasa enggan untuk mengemukakan hasil observasi karena tidak untuk menyinggung perasaan guru model;

h.      Merasa senang menjadi observer dalam kegiatan open lesson;

i.        Memperoleh banyak haldan pengalaman serta ide-ide yang bermanfaat untuk meningkatkan pembelajaran di kelas, setelah melakukan observasi pembelajaran dan diskusi refleksi;

j.        Merasa lebih professional dalam memberikan layanan pembelajaran kepada siswa setelah mengikuti kegiatan Lesson Study;

Dengan demikian program kegiatan lesson study bagi para guru, melalui sharing pengalaman yang saling menguntungkan, pengamatan di kelas keitka proses pembelajaran, pemecahan berbagai permasalahan yang terjadi selama proses pembelajaran ketika diskusi refleksi, dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pelayanan pembelajaran kepada siswa di kelas.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: