MEMBANGUN SEKOLAH EFEKTIF

UPAYA KEPALA SEKOLAH MEMBANGUN SEKOLAH EFEKTIF

Bambang Sudrajat, SPd. M.MPd.

Arus globalisasi  yang melanda Indonesia berdampak pada berbagai aspek kehidupan manusia termasuk di bidang pendidikan, dunia pendidikan dituntut untuk menjawab berbagai tantangan jaman. Sehingga munculah suatu pemikiran kearah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas (otonomi sekolah). Dalam era desentralisasi seperti saat ini, di mana sektor pendidikan juga dikelola secara otonom oleh pemerintah daerah, dan praktis pendidikan harus ditingkatkan ke arah yang lebih baik dalam arti adanya relevansinya bagi kepentingan daerah maupun kepentingan nasional. Pentingnya pemahaman terhadap keefektifan sekolah tidak saja dalam kaitannya dengan peningkatan mutu, tetapi juga sejalan dengan kebijakan nasional. Konsep dan prinsip-prinsip dasar dari kebijakan tersebut mulai diterapkan dengan diberlakukannya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dituangkan dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Efektifitas penyelenggaraan program tercermin dan dapat diukur dengan kemampuan kepala sekolah dan guru menyelenggarakan semua fungsi-sungsinya secara professional.

Berbagai permasalahan penyelenggaraan pendidikan di sekolah, diantaranya :

1.    Peningkatan prestasi

Umumnya sekolah hanya berkonsentrasi diluar kegiatan pembelajaran belum terfokus bagaimana upaya peningkatan prestasi belajar.

2.    Pembelajaran secara efektif dan efisien

Umumnya pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru kurang efektif dan efisien

3.    Pengembangan inovasi pembelajaran

Umumnya guru-guru dalam melaksanakan pembelajaran hanya sekadar rutinitas, belum ada upaya pengembangan inovasi pembelajaran sebagai dampak kurangnya melaksanakan KTI

4.    Pemanfaatan media dan sumber belajar

Kurang adanya dukungan fasilitas media pembelajaran yang memadai

5.    Peningkatan profesionalisme guru

Kurangnya jaringan komunikasi, komitmen financial terhadap peningkatan profesionalisme guru.

Berbagai permasalahan yang berkembang, menuntut upaya untuk mewujudkan sekolah efektif dengan melakukan reformasi sekolah yaitu suatu upaya mengubah falsafah dan budaya para guru dan pengelola sekolah, dengan memperbaiki kondisi belajar dan lingkungan sekolah agar setiap siswa dapat mencapai tujuan belajar dalam rangka terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Falsafah guru dan pengelola sekolah yang semula berorientasi kepada siswa sebagai obyek belajar diubah menjadi siswa sebagai subyek belajar; budaya guru dan pengelola sekolah yang semula berorientasi pada prinsip kompetitif diubah menjadi saling kolaboratif; kondisi dan lingkungan sekolah yang kurang mendukung proses pembelajaran siswa diubah menjadi kondisi dan lingkungan yang kondusif bagi proses pembelajaran siswa. Untuk itu penting sekali melakukan pengkajian terhadap upaya kepala sekolah dalam membangun sekolah efektif yang diyakini mampu memberikan solusi untuk berbagai permasalahan dalam penyelenggaraan proses pembelajaran secara efektif dan efisien (pembelajaran bermakna/meaningfull learning) sehingga terwujud sekolah efektif.

Tujuan/manfaat pengkajian ini, diharapkan kepala sekolah mampu memberikan sentuhan pendidikan yang menawarkan transfer of learning, transfer of training, dan transfer of principle dengan menemukan dan melakukan berbagai upaya serta mencari alternative solusi dalam membangun sekolah efektif. Indicator keberhasilannya adalah kepala sekolah dapat mengubah paradigma mengajar menjadi pembelajaran bermakna (meaningfull learning), membuat semua siswa belajar dengan membangun reformasi sekolah melalui komunitas pembelajaran (learning community).

Sekolah efektif berdasarkan konsep dari para akhli seperti Mortimore (1991);  sekolah efektif : semua siswa dijamin dapat berkembang sejuh mungkin, sehingga pada sekolah efektif terdapat proses belajar yang efektif dengan ciri-ciri seperti yang disampaikan Sackey (1986) adanya visi/misi yang dipahami bersama oleh komunitas sekolah (adanya system nilai dan keyakinan, adanya tujuan, adanya kepemimpinan instruksional); iklim belajar yang kondusif (adanya keterlibatan dan tanggung jawab siswa, lingkungan fisik mendukung, prilaku siswa positif, adanya dukungan keluarga dan masyarakat); adanya penekanan terhadap proses pembelajaran (memusatkan pada kurikulum dan instruksional, adanya pengembangan dan kolegialitas guru, adanya harapan yang tinggi dari komunitas sekolah, adanya pemantauan yang kontinu terhadap kemajuan belajar siswa). Edmond (1979) dengan konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (school base management) penekanan pada kemandirian dan kreatifitas sekolah, sekolah efektif selalu focus pada perbaikan proses pendidikan yang memiliki karakter lingkungan sekolah aman dan tertib, memiliki visi/misi dan target mutu, kepemimpinan yang kuat, adanya harapan yang tinggi dari personil sekolah untuk berprestasi, adanya pengembangan staf yang terus menerus, evaluasi yang terus menerus, adanya komunikasi dan dukungan yang kuat dari orang tua/masyarakat.

Reformasi sekolah adalah suatu upaya mengubah falsafah dan budaya guru dan pengelola sekolah dengan memperbaiki kondisi belajar dan lingkungan belajar dalam rangka terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Dalam hal ini dikembangkan siswa sebagai obyek pembelajaran, prisif saling kolaboratif, kondisi lingkungan kondusif bagi proses pembelajaran siswa membentuk komunitas belajar (learning community), pembelajaran menggunakan pendekatan reflektif lebih berfokus dalam kegiatan siswa dalam belajar, guru menganalisis pembelajaran, apakah siswa belajar? Bagaimana prosesnya? Adakah siswa yang tidak belajar? Mengapa? Temuan digunakan untuk perbaikanpembelajaran berikutnya.

Agar proses reformasi di sekolah dapat berjalan dengan baik dalam membangun sekolah efektif, peran kepemimpinan kepala sekolah sangat vital, karena kepala sekolah yang bertanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memungkinkan guru mendayagunakan dan mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. Kepala sekolah harus bertindak sebagai pemimpin (leader) yang efektif, menekankan kepada pencapaian prestasi akademik/non akademik, menunjukan kemampuannya dalam mengelola sekolah, guru, siswa untuk mencapai tujuan, dan berorientasi pada tugas dan hubungan manusia (integrated leadership). Sebagai manajer yang baik, kepala sekolah harus mampu mengatur agar semua potensi sekolah dapat berfungsi secara optimal dalam mendukung tercapainya tujuan sekolah. Hal ini dapat dilakukan jika kepala sekolah mampu melakukan fungsi-fungsi manajemen dengan baik meliputi: (1) perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) pengarahan; dan (4) pengawasan. Kepala sekolah harus memiliki karakter tegas, bekerja sama, berpengaruh, keyakinan diri, energik, bertanggung jawab, dan memiliki skill, pandai, kreatif, lancar berbicara, kemampuan konseptual dan ketrampilan social (Feldmond dan Arnold, 1983). Sehingga perlu pemberdayaan kepemimpinan kepala sekolah dalam arti peningkatan kemampuan  secara fungsional, mampu berperan sesuai dengan tugas, wewenang, dan tanggung jawabnya yang pada akhirnya memiliki kinerja yang profesional dan fungsional dalam membangun sekolah efektif. Adapun kualitas dan prilaku kepala sekolah efektif diantaranya : memiliki visi yang kuat dan mendorong semua staf mewujudkan visi, memiliki harapan yang tinggi terhadap prestasi siswa dan kinerja staf, tekun mengamati guru di kelas dengan memberikan balikan yang positif dan konstruktif dalam rangka memecahkan masalah dan perbaikan pembelajaran, mendorong pemanfaatan waktu secara efisien dan merancang langkah-langkah meminimalisasi kekacauan, mampu memanfaatkan sumber-sumber material dan personil secara kreatif, memantau prestasi siswa secara individual dan kolektif serta memanfaatkan informasi untuk  mengerahkan perencanaan instruksional. Dalam menjalankan perannya kepala sekolah melakukan langkah-langkah sebagai berikut : tahun pertama menerima tanggung jawab, menetapkan tujuan dan norma-norma, berkonsentrasi kepada upaya-upaya pembelajaran dan kunjungan kelas, mengembangkan aktifitas dan struktur sesuai tujuan, komunikasi terbuka, pertemuan dengan guru, penetapan orientasi akademik, system pemberian reward; tahun kedua menindaklanjuti ide-ide di tahun pertama; dan tahun ketiga menyempurnakan implementasi perubahan iklim, prosedur, dan melanjutkan reformasi sekolah.

Upaya membangun sekolah efektif di era globalisasi dilakukan oleh kepala sekolah dengan mewujudkan proses pembelajaran efektif, menerapkan system evaluasi efektif dan perbaikan kontinu, refleksi diri kearah pembentukan karakter kepemimpinan yang kuat, pengembangan staf yang kompeten, menumbuhkan sikap responsive dan antipasif terhadap kebutuhan, menciptakan lingkungan aman dan tertib, menumbuhkan budaya mutu, menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi,menumbuhkan kemauan untuk berubah, melaksanakan keterbukaan manajemen sekolah, mewujudkan visi/misi, pengelolaan tenaga kependidikan, sumber belajar, dan kegiatan kesiswaan/ekstrakurikuler secara efektif. Kepala sekolah sebagai agen perubahan proses pembelajaran, untuk membangun sekolah efektif perlu melaksanakan kebijakan dalam meningkatkan mutu pembelajaran dengan pemberdayaan dan pembinaan SDM, sarana prasarana, dan lingkungan. Membina dan mengembangkan guru yang professional dengan menetapkan kebijakan membangun komunitas belajar (learning community) melalui program lesson study yang berbasis sekolah, yaitu model pembinaan guru melalui pengkajian pembelajaran secara berkelanjutan, berkolaborasi mengkaji pembelajaran agar terpusat pada siswa melalui hands-on dan minds-on activity, daily life, dan local material, berlandaskan prisip-prinsip kolegialitas dan mutual learning untuk membangun learning community.

Lesson study adalah suatu strategi untuk meningkatkan mutu pembelajaran melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prisip-prinsip kolegalitas dan mutual learning. (Dr. rer.nat. Asep Supriatna, M.Si, dkk; Panduan Implementasi Lesson Study; 2010).

Pelaksanaannya dalam tiga tahapan Plan (merencanakan pembelajaran), Do (implementasi/uji coba inovasi pemebelajaran pada kelas nyata, melakukan pengamatan/observasi pembelajaran), dan See (refkelsi/membahas temuan-temuan hasil pengamatan). Objek kajiannya adalah materi ajar, metoda, pendekatan pembelajaran, setting kelas, assessment.

MEMBANGUN KOMUNITAS BELAJAR (LEARNING COMMUNITY) DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH EFEKTIF

Suatu pekerjaan dikatakan profesional jika pekerjaan itu memiliki kriteria tertentu. Jika kita mengikuti pendapat Houle, ciri-ciri suatu pekerjaan yang profesional meliputi: (1) harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat; (2) harus berdasarkan atas kompetensi individual; (3) memiliki sistem seleksi dan sertifikasi; (4) ada kerjasama dan kompetisi yang sehat antar sejawat; (5) adanya kesadaran profesional yang tinggi; (6) memiliki prinsip-prinsip etik  (kode etik); (7) memiliki sistem sanksi profesi; (8) adanya militansi individual; dan  (9) memiliki organisasi profesi.

Upaya kepala sekolah dalam membangun sekolah efektif adalah membina dan mengembangkan guru yang professional, menetapkan kebijakan membangun komunitas belajar dengan melaksanakan program lesson study berbasis sekolah (LSBS). Guru yang profesional perlu melakukan pembelajaran di kelas secara efektif. Kemudian, bagaimana ciri-ciri guru yang efektif ? Menurut Gary A. Davis dan Margaret A. Thomas, paling tidak ada empat kelompok besar ciri-ciri guru yang efektif. Keempat kelompok itu terdiri dari:

Pertama, memiliki kemampuan yang terkait dengan iklim belajar di kelas, yang kemudian dapat dirinci lagi menjadi (1) memiliki keterampilan interperso-nal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan kepada siswa, dan ketulusan; (2) memiliki hubungan baik dengan siswa; (3) mampu menerima, mengakui,  dan memperhatikan siswa secara tulus; (4) menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar; (5) mampu menciptakan atmosfir untuk tumbuhnya kerja sama dan kohesivitas dalam dan antar kelompok siswa; (6) mampu melibatkan siswa dalam meng-organisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran; (7) mampu mendengarkan siswa dan menghargai hak siswa untuk berbicara dalam setiap diskusi; (8) mampu meminimal-kan friksi-friksi di kelas jika ada.

Kedua, kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, yang  meliputi: (1) memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menangani siswa yang tidak memiliki perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu memberikan transisi substansi bahan ajar dalam proses pembelajaran; (2) mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda untuk semua siswa.

Ketiga, memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feedback) dan penguatan (reinforcement), yang terdiri dari: (1) mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa; (2) mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap siswa yang lamban belajar; (3) mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang kurang memuaskan; (4) Mampu memberikan bantuan profesional kepada siswa jika diperlukan.

Keempat, memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri, terdiri dari: (1) mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif; (2) mampu mem-perluas dan menambah pengetahuan mengenai metode-metode pengajaran; (3) mampu memanfaatkan perencanaan guru secara kelompok untuk menciptakan dan mengembang-kan metode pengajaran yang relevan.

Program pembinaan guru melalui Implementasi Lesson Study merupakan program penguatan kemitraan kelembagaan antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan Pemerintah Kota Bandung dalam rangka Pembinaan Guru dalam Jabatan.  Melalui program kemitraan ini diharapkan dapat menghasilkan model pembinaan guru berkelanjutan melalui implementasi lesson study.. Dalam upaya mengembangkan sekolah efektif kepala sekolah mengembangkan program lesson study berbasis sekolah melalui pendampingan oleh dosen UPI sebagai narasumber. Para guru dan dosen berkolaborasi mengkaji pembelajaran (research lesson) agar pembelajaran lebih terpusat pada siswa melalui hands-on and mind-on activity, daily life, dan local material.


Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan, Do dan See dengan agenda kegiatan sebagai berikut:

Tahapan pertama Plan adalah perencanaan yang secara kolaborasi mencari solusi inovatif atas permasalahan dalam pembelajaran untuk mengaktifkan siswa;

Tahapan kedua Do adalah implementasi (ujicoba inovasi pembelajaran pada kelas nyata, seorang guru mengajar dan guru lain mengobservasi/menacatat aktivitas siswa;

Tahapan ketiga See yaitu refleksi (membahas temuan tentang aktivitas dan merancang tindak lanjut) yang berkelanjutan. Objek kajian pada kegiatan Lesson Study ini antara lain materi ajar, metode/strategi, pendekatan pembelajaran, seting kelas, asesmen.

Tahapan  Plan, Do, dan See tersebut sebenarnya dapat dikatagorikan dua jenis kegiatan diantaranya : kegiatan perencanaan lesson study yaitu tahapan Plan, dan kegiatan implementasi lesson study (open lesson) yaitu tahapan Do dan See.

1. Kegiatan Perencanaan (Plan)

Pada pertemuan pertama, kegiatan difokuskan pada pemahaman materi lesson study, mendapatkan materi dari narasumber dari dosen UPI tentang latar belakang pengertian, maksud dan tujuan, tahapan pelaksanaan, perkembangan lesson study, tata cara pelaksanaan Plan, Do, See, keberhasilan program lesson study yang dilaksanakan di tempat asalnya Negara jepang, pada kegiatan ini juga peserta mendapatkan materi tentang bagaimana guru sebaiknya melaksankan pembelajaran kepada siswa sesuai dengan yang diharapkan sebagai guru yang professional. Penjelasan dan pengarahan dari dosen pendamping LS sebagai narasumber ternyata dapat membukakan fikiran peserta tentang cara-cara mengelola pembelajaran, serta dapat menambah pengetahuan tentang teknik pembelajaran. Setelah mendapatkan pemahaman tentang lesson study dari narasumber/dosen pendamping LS, selanjutnya membentuk kelompok berdiskusi berbagi pengalaman dan menentukan dari setiap kelompok tersebut siapa yang dipercaya untuk menjadi guru model.

Pada pertemuan kedua, Penjelasan dan pemahaman materi dari dosen pendamping LS tentang bagaimana pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang benar sehingga menjadikan pembelajaran efektif dan menyenangkan, termasuk didalamnya strategi/model pembelajaran, LKS, media, langkah-langkah pembelajaran (scenario pembelajaran), dan alat evaluasi.

Gambar 2 : Suasana kegiatan Plan, Peserta Lesson Study berkolaborasi sharing pengalaman tentang pembuatan rencana pembelajaran.

Kegiatan berikutnya adalah secara berkelompok sebagimana yang sudah terbentuk pada pertemuan sebelumnya dengan bimbingan dosen pendamping LS dan dipandu fasilitator diperintahkan untuk berdiskusi sharing pengalaman dan pengetahuan untuk mengembangkan RPP, membuat rancangan pembelajaran, media pembelajaran, LKS, assessment, peta tempat duduk siswa sesuai dengan materi dan kelas yang akan digunakan oleh guru model  masing-masing kelompok pada saat pelaksanaan open lesson nanti. Hasil diskusi kelompok ini dibuat laporan dan dipresentasikan untuk ditanggapi oleh seluruh peserta, kemudian setelah itu berdasarkan masukan-masukan dari peserta dibuat perbaikan-perbaikan. Hasil pengamatan menunjukan bahwa dalam kegiatan ini menuntut berparisipasi aktif dan bekerja sama dalam kegiatan kelompok untuk mengembangkan teaching material.

Gambar 3 : Suasana presentasi hasil diskusi kelompok. Salah satu kelompok sedang memaparkan hasil diskusi kelompok untuk ditanggapi oldeh peserta lainnya.

2. Kegiatan Implementasi Lesson Studi (Open Lesson)

Pada Lesson Study kegiatan Do dan See pelaksanaannya dilakukan secara bersamaan setiap pertemuan saat melaksanakan kegiatan implementasi lesson study atau open lesson. Setiap pertemuan implementasi lesson study atau open lesson, kegiatan diawali dengan breefing open lesson disini pemandu membacakan tata tertib pelaksanaan Do yaitu kegiatan observasi/pengamatan yang pada saat itu tidak menjadi guru model, pada kegiatan Do selama peserta didik melakukan pembelajaran diharapkan peserta LS melakukan observasi keadaan berdiri mengambil posisi untuk mengamati siswa belajar, tidak berbicara dengan observer lainnya, tidak menggangu siswa  belajar, tidak keluar masuk ruangan, tidak mempengaruhi atau berbicara dengan siswa atau guru model, tidak menghalangi pemandangan siswa ke depan.  Observasi terfokus kepada pertanyaan-pertanyaan : apakah siswa belajar, bagaimana prosesnya, adakah siswa yang tidak belajar, mengapa, bagaimana usaha siswa menghadapi kesulitan belajar, apa lesson learnt dari pembelajaran tersebut. Setelah membacakan tata tertib observasi pembelajaran, pemandu mempersilahkan guru model untuk myenyampaikan rencana pembelajaran mencakup antara lain topic, tujuan, rencana scenario pembelajaran, dan setting tempat duduk. Setelah proses pembelajaran selesai dilaksanakan, masuk kembali kedalam suatu ruangan untuk melaksanakan kegiatan See yaitu kegiatan refleksi tentang pembelajaran yang baru saja dilaksanakan. Kegiatan ini diawali oleh moderator dengan membacakan tata tertib menyampaikan hasil temuannya ketika mengamati pembelajaran siswa, refleksi terfokus pada proses belajar siswa bukan pada aktivitas guru mengajar, masalah yang didiskusikan hendaknya masalah yang nyata berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran.  Kemudian moderator mempersilahkan guru model melakukan refleksi diri terlebih dahulu berupa perasaan sebelum, saat, dan setelah mengajar, ketercapaian rencana scenario pembelajaran, kondisi-kondisi khusus yang terjadi pada beberapa siswa saat pembelajaran. Kegiatan dilanjutkan dengan mempersilahkan pengamat menyampaikan komentar berdasarkan fakta hasil temuan, analisis penyebab, dan alternative solusi. Komentar yang disampaikan salah seorang pengamat oleh moderator dijadikan suatu permasalahan sebagai bahan kajian untuk mempersilahkan pengamat lain menanggapi komentar tersebut. Suatu masalah didiskusikan bersama sampai tuntas sehingga diskusi berlangsung menarik dan mendalam. Moderator mempersilahkan semua pengamat memberikan komentar, berdasarkan kelompok belajar siswa yang diamati. Akhirnya moderator mempersilahkan dosen pendamping LS melakukan refleksi akhir dan penguatan.

Pada kegiatan ini memperoleh pengalaman dari pembelajaran yang dilakukan guru model baik kelebihan maupun kekurangannya, mendapatkan lesson learn dari permasalahan dan kendala selama siswa belajar berdasarkan hasil pengamatan mereka, antara lain:

a. Mencari tahu masalah yang dihadapi siswa;

b. Lebih aktif memotivasi dalam menyelesaikan masalah;

c. Relevansi antara RPP dan LKS;

d. Bertambah ilmu dan mengetahui kekurangan selama proses pembelajaran;

e. Mengkondisikan tempat duduk pada kelompok;

f. Mengetahui bagaimana pembelajaran lancar sesuai waktu, kesulitan siswa dalam belajar, kesulitan memecahkan masalah, pembelajaran menarik dengan persiapan matang, motivasi siswa yang baik, teknik bertanya;

g. Bagaimana membuat RPP yang tepat, media belajar, mengatur waktu sesuai RPP, posisi duduk siswa, penempatan siswa dalam kelompok, penguasaan materi;

h. Mengikuti hal-hal yang dapat diterapkan disekolahnya dengan menambah berbagai kekurangannya;

i. Kebijakan dan kecepatan dalam menerangkan (daya serap siswa).

j. Belajar dengan alat peraga lebih baik dan lebih memudahkan siswa memahami konsep.

k. Ketika menghadapi kesulitan, siswa berusaha meminta bantuan teman sebaya dan guru.

l. Peserta LS dapat menemukan cara pembelajaran dengan menggunakan media.

m. Penguasaan materi dan penggunaan model pembelajaran yang tepat sangat dibutuhkan untuk efektifitas pembelajaran.

n. Dalam proses pembelajaran perlu pengaturan waktu dan penguasaan kelas yang baik.

o. Saat proses pembelajaran diperlukan bimbingan guru.

p. Menambah pengalaman dan dapat memotivasi peserta LS.

Gambar 4: Suasana open lesson1. Peserta Lesson Study sedang melakukan observasi proses pembelajaran siswa.

 

Setelah selesai melaksanakan pengamatan dilanjutkan melaksanakan kegiatan Refleksi yang dipimpin oleh moderator. Kegiatan diawali dengan penyampaian kesan dan pesan dari guru model serta ketercapaian RPP selama proses pembelajaran, membacakan tata tertib refleksi, diteruskan dengan penyampaian komentar dari peserta LS selama melaksanakan pengamatan di kelas. Berbagai komentar yang dimungkinkan diperoleh selama pengamatan antara lain:

a.      Awal pembelajaran siswa belum focus, diskusi kelompok kurang efektif hanya didominasi oleh seorang siswa, terdapat siswa yang tidak mengerjakan sama sekali, terdapat soal yang tidak bisa dipecahkan oleh siswa.

b.      Diskusi didominasi oleh seorang siswa, umumnya materi tidak dikuasai siswa.

c.      Awal KBM kurang antusias, sebagian siswa pasif, focus anak kurang dengan kondisi tempat duduk.

d.      Siswa kesulitan membuat kesimpulan, dan menarik kesimpulan masih dilakukan oleh guru.

Berbagai permasalahan yang ditemukan selama proses pembelajaran seperti : apersepsi kurang, pemahaman konsep kurang jelas, penguasaan dan pengelolaan kelas kurang, LKS tidak berfungsi secara maksimal, pengkondisian kelompok kurang, presentasi kelompok kurang tertib, penghargaan bagi siswa kurang, tidak menyimpulkan materi. Adapun solusi yang bias disampaikan antara lain: memonitor masalah, memberikan stimulus, penuntun LKS harus jelas, siswa yang berkemampuan lebih dikondisikan duduk ditengah pada kelompok tersebut, pada presentasi ditunjuk diberi nilai yang tidak presentasi nilai hasil diskusi, merancang model pembelajaran sesuai kondisi siswa, kelompok diberi arahan dan bimbingan secara merata, memberikan reward, penegasan untuk soal yang dianggap sulit. Kegiatan refleksi ini diakhiri dengan komentar dan penguatan oleh dosen pendamping dari UPI antara lain :

a.      Pengamalan yang sangat berharga bias kita dapatkan dari kegiatan LS.

b.      Perlu sharing untuk kegiatan LS dari UPI, Sekolah, Dinas.

c.      Resep yang dipakai dalam pembelajaran matematika : pembelajaran harus konstektual, konstruktivisme (mengalami), dan kooperatif (kelompok).

d.      Penyakit dalam pembelajaran matematika antara lain: prasarat, algoritma (proses menghitung), problem (masalah) yang timbul karena kalimat baik lisan atau tulisan belum jelas.

e.      Belajar tuntas terdiri dari individu dan klasikal, klasikal harus mencapai lebih dari sama dengan 75% dari seluruh siswa memenuhi KKM dan muncul remedial serta pengayaan.

Hasil yang diperoleh dalam membangun komunitas pembelajaran melalui Program pengembangan Lesson Study, menunjukkan bahwa kegiatan LS:

a.      Dapat membukakan pikiran tentang cara mengelola pembelajaran;

b.      Dapat menambah pengetahuan tentang teknik pembelajaran;

c.      Sangat diperlukan dan penting bagi setiap guru yang diberi tugas mengajar;

d.      Bermanfaat bagi guru dalam meningkatkan kualitas kerjanya;

e.      Guru berpartisipasi aktif dan bekerja sama dalam kegiatan kelompok untuk mengembangkan teaching material (alat pembelajaran, LKS, dan media);

f.       Senang dan ingin menjadi guru model;

g.      Tidak merasa enggan untuk mengemukakan hasil observasi karena tidak untuk menyinggung perasaan guru model;

h.      Merasa senang menjadi observer dalam kegiatan open lesson;

i.        Memperoleh banyak haldan pengalaman serta ide-ide yang bermanfaat untuk meningkatkan pembelajaran di kelas, setelah melakukan observasi pembelajaran dan diskusi refleksi;

j.        Merasa lebih professional dalam memberikan layanan pembelajaran kepada siswa setelah mengikuti kegiatan Lesson Study;

Dengan demikian program kegiatan lesson study bagi para guru, melalui sharing pengalaman yang saling menguntungkan, pengamatan di kelas keitka proses pembelajaran, pemecahan berbagai permasalahan yang terjadi selama proses pembelajaran ketika diskusi refleksi, dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pelayanan pembelajaran kepada siswa di kelas.

Reformasi Sekolah dengan Membangun Komunitas Belajar (Learning Community)

Reformasi sekolah adalah suatu upaya mengubah falsafah dan budaya para guru dan pengelola sekolah, dengan memperbaiki kondisi belajar dan lingkungan belajar agar setiap siswa dapat mencapai tujuan belajar dalam rangka terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Falsafah dan budaya guru yang dikembangkan adalah : siswa sebagai obyek pembelajaran, prinsip saling kolaboratif, kondisi lingkungan yang kondusif bagi proses pembelajaran siswa.  Pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan reflektif yaitu pendekatan yang lebih berfokus pada kegiatan siswa dalam pembelajaran, bukan pada teknik mengajar dan ketrampilan guru. Dalam pendekatan ini guru mengnalisis dengan serius pembelajaran mereka sendiri, terutama memberikan perhatian kepada siswa apakah siswa benar-benar belajar dengan baik selama di kelas. Setiap kali mereka menemukan siswa tidak belajar dengan baik guru mencoba untuk mencari alasan dibalik hal itu, mengapa hal itu terjadi. Temuan ini akan menjadi petunjuk berguna untuk perbaikan pembelajaran berikutnya sehingga akan berkembang lebih baik.

Komunitas belajar dapat dibedakan menjadi 2 macam. Pertama komunitas belajar tingkat kelas yang merupakan tanggung jawab guru, dan kedua kmunitas belajar tingkat sekolah yang merupakan tanggung jawab kepala sekolah, tujuannya agar terjadi proses saling belajar antara guru dengan guru. Kebijakan kepala sekolah dalam rangka membentuk komunitas belajar di tingkat sekolah diantaranya menetapkan kegiatan lesson study.

Lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas dan mutual learning untuk membangun learning community.

Lesson study adalah suatu strategi untuk meningkatkan mutu pembelajaran melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prisip-prinsip kolegalitas dan mutual learning. (Dr. rer.nat. Asep Supriatna, M.Si, dkk; Panduan Implementasi Lesson Study; 2010)

 

Lesson study merupakan suatu strategi bagaimana meningkatkan keprofesionalan guru dari guru oleh guru dan untuk guru. Oleh karena itu, peserta perlu memahami pengertian lesson study dan langkah-langkah pelaksanaannya serta mempraktekkannya. Untuk ini disusun materi pelatihan tentang pengertian lesson study dan langkah-langkah pelaksanaannya, serta bagaimana menyusun perangkat pembelajaran yang dapat dipahami dan dipraktekkan oleh para guru sesuai dengan perangkat yang telah direncanakan.

Untuk dapat menyusun perangkat pembelajaran, khususnya rencana pelaksanaan pembelajaran (lesson plan), selain penguasan materi ajar, guru perlu mempertimbangkan karakteristik siswa dan strategi/model pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa yang dihadapinya. Untuk ini disusun materi pelatihan sebagai tindak lanjut dari Program Pelayanan Peningkatan Mutu Pendidikan (PPMP) yang telah dilaksanakan mengenai strategi pembelajaran yang inovatif melalui Lesson Study dan cara menyusun desainnya, termasuk model pembelajaran sebagai alternatif pelaksanaan Lesson tudy tersebut.

Rencana pembelajaran dan perangkat lainnya yang telah disusun secara matang, selanjutnya perlu dipraktekkan di depan kelas. Apakah dengan mempraktekkan rencana pembelajaran dan perangkat lainnya tersebut dapat nyata-nyata dapat mengaktifkan belajar siswa, siswa tampak memahami materi ajar, siswa termotivasi belajarnya, dan siswa tampak senang dan bergairah dalam belajar? Untuk mengetahui hal-hal tersebut dengan benar, maka disajikan materi pelatihan tentang evaluasi pelaksanaan lesson study dan cara menyusun instrumennya.

Selanjutnya, agar model-model pelaksanaan lesson study tersebut dapat dicontoh atau sebagai bahan kajian, maka pelaksanaan lesson study perlu didokumentasikan dengan baik. Lesson Study bertujuan untuk melakukan pembinaan profesi pendidik secara berkelanjutan agar  terjadi peningkatan profesionalitas pendidik terus menerus yang tercermin dari peningkatan mutu pembelajaran. Pembinaannya melalui pengkajian pembelajaran secara terus menerus dan berkolaborasi dengan alasan : tidak ada pembelajaran yang sempurna, setiap siswa memiliki hak belajar, pembelajaran harus memperhatikan keseimbangan antar peningkatan kemampuan berpikir dan peningkatan sikap, pembelajaran harus berpusat pada siswa. Membangun komunitas belajar adalah membangun budaya yang memfasilitasi anggotanya untuk saling belajar, saling koreksi, saling menghargai, saling bantu, saling menahan ego. Objek kajian pembelajaran dapat meliputi : materi ajar, metode/strategi/pendekatan pembelajaran, LKS, media pembelajaran, seting kelas, dan asesmen. Dilakukannya secara berkolaborasi karena lebih banyak masukan perbaikan akan meningkatkan mutu pembelajaran itu sendiri. Prinsip kolegialitas dan mutual learning (saling belajar) diterapkan dalam berkolaborasi ketika melaksanakan kegiatan lesson study. Peserta kegiatan lesson study tidak boleh meras superior (paling pintar) atau imperior (rendah diri) tetapi harus diniatan untuk saling belajar. Peserta yang sudah paham atau memiliki ilmu lebih harus mau berbagi dengan peserta yang belum paham , sebaliknya peserta yang belum paham harus mau bertanya kepada yang sudah paham. Keberadaan narasumber dalam forum lesson study harus bertindak sebagai fasilitator, bukan instruktur. Fasilitator harus dapat memotivasi peserta mengembangkan potensi yang dimiliki para peserta agar maju bersama.

Berbeda dengan pelatihan konvensional yang sifatnya top-down, pelatihan lesson study bersifat bottom-up karena materi pelatihan berbasis permasalahan yang dihadapi guru di sekolah, kemudian dikaji secara kolaboratif dan berkelanjutan. Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan, Do dan See : tahapan pertama Plan adalah perencanaan yang secara kolaborasi mencari solusi inovatif atas permasalahan dalam pembelajaran untuk mengaktifkan siswa; tahap kedua Do adalah implementasi (ujicoba inovasi pembelajaran pada kelas nyata, seorang guru mengajar dan guru lain mengobservasi/menacatat aktivitas siswa dan tahapan ketiga See yaitu refleksi (membahas temuan tentang aktivitas dan merancang tindak lanjut) yang berkelanjutan. Objek kajian pada kegiatan Lesson Study ini antara lain :  materi ajar, metode/strategi, pendekatan pembelajaran, seting kelas, asesmen.

Pada tahap perencaan/Plan guru melakukan perencanaan pembelajaran berdasarkan permasalahan yang nyata di kelas, tjuan pembelajaran dan perkembangan siswa. Sebagai hasil akhir dari tahapan perencanaan adalah dihasilkannya rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) lengkap dengan strategi/metode/model pembelajaran yang dipilih untuk menyajikan materi, LKS, media pembelajaran termasuk cara penilaian atau asesmen.

Pada tahap pelaksanaan tidakan/Do, dilaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat oleh guru model. Pada tahap ini juga dilakukan kegiatan pengamatan/observasi dengan cara mengobservasi pembelajaran untuk mengumpulkan data tentang aktifitas belajar siswa. Observer yang menyaksikan pembelajaran berlaku aturan aturan tersendiri yang harus ditaati misalnya: ketika pembelajaran observer pada posisi berdiri, tidak boleh saling bicara, tidak intervensi ketika pembelajaran berlangsung dan focus pengamatan ditujukan pada pertanyaan-pertanyaan : apakah siswa belajar, bagaimana prosesnya? Adakah siswa tidak belajar dan mengapa tidak belajar? Bagaimana usaha guru memotivasi siswa belajar? Observer berada di dalam kelas untuk belajar dari pembelajaran yang sedang berlangsung dan bukan untuk mengevaluasi guru model.

Pada tahap refleksi/See dilakukan dengan menggunakan data hasil observasi selama pembelajaran terutama difokuskan pada ketiga pertanyaan-pertanyaan ketika observasi. Masukan-masukan dari observer digunakan sebagai bahan untuk melakukan re-planning dengan topic yang sama untuk pembelajaran di kelas lain.

BANGUN DATAR YANG SEBANGUN

Dalam kehidupan sehari hari, pasti kamu pernah mendengar istilah memperbesar atau memperkecil foto. Ketika kamu memperbesar (atau memperkecil) foto, berubahkah bentuk gambarnya? Bentuk benda pada foto mula-mula dengan foto yang telah diperbesar adalah sama, tetapi ukurannya berlainan dengan perbandingan sama. Gambar benda pada foto mula-mula dengan foto yang telah diperbesar merupakan dua bangun yang sebangun. (Nuniek Avianti Agus, Mudah belajar Matematika, hal.2)

“Dua bangun datar dikatakan sebangun jika sudut-sudut yang bersesuaian sama
besar dan sisi-sisi yang bersesuaian sebanding”

Contoh :

Semua sudut persegipanjang masing-masing siku-siku dengan demikian sudut-sudut yang bersesuaian besarnya
sama yaitu 90°. Perbandingan panjang =  12 : 6 = 2 dan perbandingan lebar = 8 : 4 = 2.

Karena sudut yang bersesuaian sama besar dan sisi-sisi yang bersesuaian mempunyai perbandingan yang sama
maka kedua persegipanjang tersebut sebangun.

Dari contoh dan penjelasan di atas diperoleh bahwa : untuk menunjukkan apakah dua bangun itu sebangun perlu dicari terlebih dahulu sudut-sudut yang bersesuaian sama besar dan sisi-sisi yang bersesuaian sebanding.

Instrumen

1.  Sebuah foto dengan tinggi 8 cm dan lebar 6 cm diperbesar sehingga lebarnya menjadi 21 cm. Hitunglah :

a.  tinggi foto setelah diperbesar
b.  luas foto setelah diperbesar
c.  perbandingan antara luas foto sebelumdiperbesar dengan setelah diperbesar.

2. Sebuah lemari berukuran 120 cm x 50 cm x 180 cm, dibiuat model dengan panjang model 24 cm. Hitunglah :

a.   lebar dan tinggi pada model
b.  Perbandingan volume lemari sebenarnya dengan volume pada model.

3.  Diantara bangun-bangun berikut ini, manakah yang sebangun dengan lapangan ring tinju berukuran 5 m x 5 m ?
a.  karpet berukuran 4 m x 4 m,
b. halaman buku berukuran 20 cm x 15 cm,
c. persegi kecil pada buku berpetak.

Read more »

Halo dunia!

Selamat datang di Pembelajaran Matematika melalui media elektronic (Mathematics e-learning) yang dapat memberikan informasi serta merupakan sarana untuk berkomunikasi dan aspirasi dengan berbagai permasalahan pembelajaran Matematika baik materi (content) maupun paradigma belajar mengajar (pembelajaran). Kami civitas academika SMP Negeri 20 kota Bandung mengucapkan banyak terimakasih atas kunjungan anda, saran dan kritikan anda dalam rangka perbaikan ke depan, smoga Pembelajaran Matematika dapat disenangi dan dimengerti oleh anak didik. Amiin